JAKARTA – Di sela-sela kesibukan akademik, Sekolah Putra Pertiwi baru saja menorehkan cerita membanggakan di forum internasional. Pada Jumat, 6 Maret 2026, beberapa guru berkesempatan menghadiri Community Discussion bertajuk “Breaking Barriers, Building the Future” yang digelar di British Embassy Hall dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2026.

Acara ini merupakan hasil kolaborasi inspiratif antara British Embassy Jakarta, Magdalene.co, dan Inspire Indonesia untuk mengampanyekan #KickOutGBV melalui medium sepak bola. Keluarga besar Sekolah Putra Pertiwi secara khusus mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Magdalene.co atas undangan istimewa ini yang telah membuka ruang inspirasi dalam percakapan global yang begitu bermakna.

Networking di Lingkaran Tokoh Berpengaruh

Diskusi ini menjadi sangat berkelas karena dihadiri oleh jajaran tokoh penting yang memiliki kepedulian tinggi terhadap isu kesetaraan. Di barisan depan, nampak hadir perwakilan dari Duta Besar Inggris serta perwakilan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Acara dipandu dengan sangat apik oleh Kak Purnama Ayu Rizky (Managing Editor Magdalene) sebagai moderator, dengan jajaran panelis yang luar biasa kompeten di bidangnya:

  • Kak Agustini (Perwakilan Komnas Perempuan).
  • Novita Murni Piranti (Kak Apem) – Atlet Futsal Kebanggaan Indonesia.
  • Cicilia Setiawan – Pelatih Olahraga dari Inspire Indonesia.
  • Mr. Bran – Perwakilan dari Inggris.

The ‘Mic-Drop’ Moment: Perwakilan Sekolah Putra Pertiwi Speak Up

Sekolah Putra Pertiwi mengirimkan empat delegasi terbaiknya, yaitu Ibu Dr. Novi, Ibu Lia, Bapak Artha, dan Bapak Rokim. Salah satu momen yang paling berkesan adalah ketika Bapak Rokim diminta memberikan pendapatnya sebagai Penanggap (Respondent).

Tanggapan beliau tentang kepemimpinan inklusif di Sekolah Putra Pertiwi sukses memberikan vibe positif bagi seluruh audiens. Pak Rokim menyampaikan sebuah pesan kuat:

“Sebagai guru sekolah dasar di sebuah sekolah swasta yang dipimpin oleh perempuan — dari kepala sekolah hingga ketua yayasan — saya menyaksikan setiap hari bagaimana kepemimpinan yang inklusif membentuk ruang belajar yang lebih adil dan manusiawi. Di kelas kami, anak-anak belajar bahwa otoritas, kepedulian, dan ketegasan tidak memiliki jenis kelamin.”

Beliau menekankan bahwa kesetaraan di Sekolah Putra Pertiwi bukan sekadar slogan, melainkan praktik harian di mana laki-laki dan perempuan berbagi peran secara setara, serta mereka didorong untuk berempati sekaligus berani memimpin tanpa sekat prasangka. Harapannya, semoga langkah kecil di sekolah ini bisa teraplikasi juga di dunia olah raga. “Ketika perempuan memimpin dan anak-anak melihatnya sebagai hal biasa, kesetaraan menjadi budaya, bukan lagi program,” tutup beliau yang disambut tepuk tangan meriah dan respon sangat bagus dari panitia, hingga beliau pun diminta memberikan testimoni khusus di akhir acara.

Keeping the Global Standard

Partisipasi aktif ini menegaskan posisi Sekolah Putra Pertiwi sebagai sekolah dengan Global Outlook. Sekolah Putra Pertiwi percaya bahwa untuk mencetak generasi masa depan yang unggul, sekolah harus mampu menyelaraskan diri dengan standar internasional.

Komitmen ini tidak hanya ditunjukkan melalui diskusi diplomatik, tetapi juga melalui kualitas kurikulum. Sebagai sekolah yang bekerja sama dengan Mentari dalam Cambridge English Qualification, Sekolah Putra Pertiwi juga memastikan siswa-siswinya memiliki kemampuan bahasa Inggris yang mumpuni agar mereka bisa berdiri di equal footing (posisi yang setara) dengan masyarakat global di masa depan.

Melalui acara ini, para delegasi membawa pulang semangat baru untuk terus menjadikan sekolah sebagai safe space yang mendukung setiap anak untuk berani bermimpi menjadi apa saja, tanpa batasan gender.